5 Cara Menurunkan Angka Similarity Tanpa Merusak Kualitas Tulisan
Padahal, solusinya bukan sekadar mengganti kata dengan sinonim, tetapi memperbaiki cara kita mengolah informasi dari sumber menjadi tulisan sendiri.
Angka similarity yang tinggi sering membuat penulis panik. Padahal, solusinya bukan sekadar mengganti kata dengan sinonim, tetapi memperbaiki cara kita mengolah informasi dari sumber menjadi tulisan sendiri.
Sudah selesai menulis skripsi, tesis, atau artikel jurnal, lalu hasil Turnitin menunjukkan angka similarity yang tinggi? Jangan langsung buru-buru menghapus atau mengganti banyak kalimat.
Similarity yang tinggi perlu dilihat dari bagian mana yang terdeteksi dan mengapa. Bisa jadi karena kutipan, daftar pustaka, istilah baku, atau memang ada kalimat yang terlalu dekat dengan sumber.
Berikut beberapa cara yang lebih tepat untuk memperbaikinya.
1. Parafrase dengan Memahami, Bukan Mengganti Kata
Kesalahan yang paling sering dilakukan adalah mengganti beberapa kata dengan sinonim. Padahal, jika struktur kalimat masih sama, kemiripannya tetap tinggi.
Baca sumbernya, pahami maksudnya, kemudian tuliskan kembali dengan struktur dan cara penjelasan sendiri. Setelah itu, tetap cantumkan sitasinya.
Parafrase yang baik mengubah cara menyampaikan gagasan, bukan mengubah maknanya.
2. Bangun Paragraf dari Beberapa Sumber
Jangan membuat satu paragraf hanya berdasarkan satu jurnal jika beberapa penelitian membahas gagasan yang sama.
Bandingkan temuan beberapa penelitian, kemudian rangkai menjadi satu pembahasan. Cara ini membuat tulisan lebih bersifat sintesis, bukan sekadar memindahkan isi jurnal.
Misalnya, bukan menulis “Penelitian A menemukan... Penelitian B menemukan...”, tetapi menjelaskan bagaimana kedua penelitian tersebut memiliki temuan yang serupa atau justru berbeda.
3. Gunakan Kutipan dan Sitasi Secukupnya
Kutipan langsung memang diperbolehkan ketika formulasi asli perlu dipertahankan. Namun, jangan membuat kajian literatur dipenuhi kutipan.
Sebisa mungkin, pahami gagasan dari sumber lalu jelaskan kembali dengan bahasa sendiri, kemudian berikan sitasi sebagai bentuk penghargaan terhadap sumber.
Jadi, menurunkan similarity bukan berarti menghilangkan sitasi.
4. Perhatikan Pengaturan Similarity
Sebelum memperbaiki seluruh naskah, lihat terlebih dahulu laporan Turnitin secara detail.
Bagian seperti daftar pustaka atau kutipan dapat menghasilkan kecocokan yang sebenarnya tidak menunjukkan plagiarisme substantif. Pengaturan pengecualian juga dapat berbeda sesuai kebijakan kampus atau jurnal.
Karena itu, jangan hanya mengejar persentase rendah. Baca laporan similarity dan pahami sumber kecocokannya.
5. Cek Similarity Secara Bertahap
Jangan menunggu sampai skripsi atau artikel selesai untuk melakukan pengecekan.
Periksa secara berkala, terutama setelah menyelesaikan bagian seperti pendahuluan, kajian literatur, dan pembahasan. Dengan begitu, bagian yang terlalu mirip dapat diperbaiki lebih awal.
Yang perlu ditanyakan bukan hanya:
“Bagaimana supaya angkanya turun?”
Tetapi:
“Mengapa bagian ini terdeteksi mirip?”
Dari situlah kita bisa menentukan apakah perlu diparafrasekan, disintesis dengan sumber lain, atau memang sudah tepat sebagai kutipan.
Jangan Hanya Mengejar Angka Rendah
Similarity rendah tidak otomatis berarti tulisan lebih baik.
Jangan sampai demi mengejar angka tertentu, penulis melakukan parafrase berlebihan hingga makna penelitian berubah atau justru menghilangkan sitasi.
Tujuan utama pengecekan similarity adalah memastikan bahwa kita menggunakan sumber secara bertanggung jawab dan menyampaikan gagasan dengan pemahaman sendiri.
Jadi, daripada berpikir “bagaimana mendapatkan similarity serendah mungkin?”, lebih baik bertanya:
“Bagaimana saya bisa mengolah penelitian terdahulu menjadi tulisan yang menunjukkan pemikiran saya sendiri?”
Itulah yang membuat karya ilmiah tidak hanya memiliki similarity yang wajar, tetapi juga terasa lebih natural, akademis, dan kuat secara argumentasi.